Kau bagai setan-setan gelap yang bergentanyangan
Pada pekatnya malam ataupun terangnya siang
Mengintai penuh nafsu pada setiap bayangan
menunggu dalam bisu dentang lonceng terlarang
menyetubuhi setiap detak jantung
hingga binasa akal budi dan pikiran
Kau anarki amarah
yang meletup dan bergejolak dalam tiap nadi
yang lihai memasang perangkap
bersama setan-setan gelap
yang menyeringai
Anarki amarah
perpanjangan tangan-tangan setan durjana
siap melibas setiap yang bernyawa
saat mereka lengah terperangjkap birahi
anarki amarah menyetubuhi
hanyut dalam nyanyian kelam
hingga binasa tanpa nurani
Friday, June 8, 2007
Saat Aku Tak Mengerti
June 08, 2007
Saat Aku Tidak Mengerti
Aku tak tahu mengapa kau marah
aku tak tahu mengapa gusar selalu mencekatmu
aku pun tidak pula tahu pada siapa panah api amarahmu terlesat
Ah, apakah aku terlalu egois
saat mencoba memerangi amarahmu dengan pembenaran egoku
Ah, bukankah lebih banyak alasan bagiku
untuk memendam luka dan sekam amarah melebihimu
saat kata dan sikapmu sering melukai
menyayat dan merobek tidak hanya hatiku tapi
lebih mengiris orang yang aku pikir sangat kau sayangi
bukankah aku lebih banyak mengalah tanpa protes
dan tidak sedikit pun berani merambah privasimu
bukankah itu cukup bagiku untuk melesatkan busur api
dengan anak panah amarah
Ah, betapa egois apabila pembenaran ini terlintas
dalam relung hatiku yang tersembunyi
meskipun terkadang pembenaran ini menyeruak keluar di lubuk hati
karena hati ini tidak terkunci oleh malaikat kebaikan
malaikat yangn tanpa bosan terus berbisik
tidak ada benci, permusuhan, dan amarah dalam pertemanan
bangunlah dengan kasih dan sayang
sebagaimana manusia terlahir dari buah kasih dan sayang
Ah, seandainya malaikat kebaikan mengunci relung hatiku
tanpa bisa lagi termasuki setan-setan kegelapan
mungkin aku bisa melihat kemarahanmu melalui sisi lain
agar bisa selalu aku temukan alasan tersenyum tulus
saat amarahmu membelenggu dari setiap penjuru
Ah, tetap saja aku tidak mengerti
tapi aku mencoba memahami
setiap bara amarah yang berkobar
memahami hingga aku bisa berdamai dengan setan-setan gelap
yang menaburkan bius opium dalam hatiku
sampai aku bisa membiarkanmu
berdamai dengan amarahmu
Saat Aku Tidak Mengerti
Aku tak tahu mengapa kau marah
aku tak tahu mengapa gusar selalu mencekatmu
aku pun tidak pula tahu pada siapa panah api amarahmu terlesat
Ah, apakah aku terlalu egois
saat mencoba memerangi amarahmu dengan pembenaran egoku
Ah, bukankah lebih banyak alasan bagiku
untuk memendam luka dan sekam amarah melebihimu
saat kata dan sikapmu sering melukai
menyayat dan merobek tidak hanya hatiku tapi
lebih mengiris orang yang aku pikir sangat kau sayangi
bukankah aku lebih banyak mengalah tanpa protes
dan tidak sedikit pun berani merambah privasimu
bukankah itu cukup bagiku untuk melesatkan busur api
dengan anak panah amarah
Ah, betapa egois apabila pembenaran ini terlintas
dalam relung hatiku yang tersembunyi
meskipun terkadang pembenaran ini menyeruak keluar di lubuk hati
karena hati ini tidak terkunci oleh malaikat kebaikan
malaikat yangn tanpa bosan terus berbisik
tidak ada benci, permusuhan, dan amarah dalam pertemanan
bangunlah dengan kasih dan sayang
sebagaimana manusia terlahir dari buah kasih dan sayang
Ah, seandainya malaikat kebaikan mengunci relung hatiku
tanpa bisa lagi termasuki setan-setan kegelapan
mungkin aku bisa melihat kemarahanmu melalui sisi lain
agar bisa selalu aku temukan alasan tersenyum tulus
saat amarahmu membelenggu dari setiap penjuru
Ah, tetap saja aku tidak mengerti
tapi aku mencoba memahami
setiap bara amarah yang berkobar
memahami hingga aku bisa berdamai dengan setan-setan gelap
yang menaburkan bius opium dalam hatiku
sampai aku bisa membiarkanmu
berdamai dengan amarahmu
Sunday, June 3, 2007
Beauty Is
Nanda masih terpaku menatap bayangannya di cermin kamarnya. Sudah hampir setengah jam dia memandang bayangan di kaca itu, mencermati detail lukisan hidup dirinya mulai dari wajah hingga ujung kakinya. Setiap kali ia menemukan kekurangan itu setiap kali itu pula ia membenci bagian itu, bagian yang dia anggap sebagai suatu monster yang harus disingkirkan jauh-jauh. Monster jahat yang setiap saat mengintai dan siap melumatnya tanpa ampun.
“Ugh, mengapa badan ini terus melar padahal aku kan dah mengurangi porsi makan. Ini juga mengapa jerawat ini selalu muncul setiap saat… sebeeel.” Sungut gadis yang baru menginjak usia remaja ini penuh kekesalan saat menatap bagian wajah yang ia anggap sebagai titik lemah yang harus ia singkirkan.
“Ah, seandainya saja aku memiliki wajah dan tubuh seperti Puteri Indonesia atau Miss Universe tentu akan banyak cowok yang mengejar aku. Sapa tahu ada produser film yang tertarik mengajakku berakting atau yach paling nggak sebagai bintang iklan sabun lux…Dan pasti sepupu-sepupunya yang usil itu tidak akan selalu memperoloknya..” Nanda tersenyum puas saat membayangkan impiannya memiliki tubuh dan wajah sempurna sambil bergaya dan bermanuver di depan cermin bak seorang selebritis yang sering nonggol di infotainment. Saat keasyikan berangan tiba-tiba saja pintu kamarnnya terbuka dan suara yang ia anggap menyebalkan itu mulai menukik tajam memasuki gendang telinganya.
“Eh, ganjen amat loe pakai bergaya kayak model iklan aja. Norak tahu! Semua dah nungguin tuh! Lagian dandan lama amat sih! Anak seusia loe itu gak usah pakai make up setebal itu tahu! Bukannya bertambah cantik malah kayak Mak Lampir!”
“Ugh, Kak Reza ini sok tahu! This is my room, give me a little bit privacy here! Bisa kan ngetuk pintu dulu sebelum masuk! Dah gitu pakai ngeledek dandananku segala dan main nepok jidat sembarangan. Sebel!” Sungut Nanda kesal menaggapi ucapan kakak lelaki semata wayangnya sambil melayangkan pukulan jab ke dadanya.
“Ouch, ampun…ampun…ampun Non. Jangan tinju lagi, sakit nih. Mentang-mentang dah jago karate. Iya deh Kak Reza minta maaf karena telah masuk kamar kamu tanpa permisi. Udah selesai belum, Papa Mama dah nunggu tuh. Kamu gak mau kan kita telat ke acara. Kamu itu dah perfect, gak perlu lah dipoles sana-sani. That’s not what you are!” Reza gemas melihat tingkah adik kesayangannya yang mulai terkontaminasi soal perfect dan gak perfect. Gak tahu darimana anak itu dapat ide soal sosok perfect seperti citra wanita yang ditampilkan di media.
“Benar? Kak Reza gak bohong kan. Kan ntar Nanda malu kalau sampai dikatain ketinggalan zaman, norak, kuno ma anak-anak lain.”
“Ananda sayang, Kak Reza gak bohong. Swear deh! Yuk…” Buru-buru Reza menggelandang Nanda untuk keluar kamar menemui Papa Mama mereka yang telah menunggu di bawah. Yach, acara pertemuan keluarga besar Sastronegoro yang selalu diadakan setiap sebulan sekali merupakan acara ‘wajib’ keluarga Reza sejak dia mulai bisa mengingat.
* * *
“Wah, Nanda loe makin endut aja yach. Itu lagi jerawat nonggol kemana-mana. Baju yang loe pakai juga konservatif banget sih kayak emak-emak. Kemarin kan dah gue bilang perempuan itu harus memiliki tubuh langsing, wajah mulus, dan fashionable. Itu adalah keharusan bagi perempuan jaman sekarang. Gue bisa kasih rekomendasi tempat facial dan resep diet yang dijamin manjur deh. Loe bisa lihat nih gue sebagai bukti hidup. Dulu berat badan gue mencapai angka di atas 50, sekarang berat gue gak pernah lebih dari 47. Amazing kan? Soal busana kita juga punya langganan di Plaza Senayan, modelnya selalu up to date dan trendy bok!” Si ceriwis Dea terus saja nyerocos bak ember bocor sambil menginspeksi Nanda habis-habisan.
“Yup, itu benar Nan. Cowok juga suka ma tipe cewek yang perfect. Badan ramping, kulit mulus, fashionable, gaul dan gak norak gitu loh!”
“ya, dulu waktu gue gak bisa ngontrol berat badan gue, cowok gue juga kesal dan ngancam mutusin gue. Apalagi waktu dia bilang gue norak dan gak gaul saat dia minta kiss, terus gue nolak. Wah, heartbreaking banget deh. Tapi sekarang semua cowok di kelas gue pada ngejar-ngejar gue karena sekarang gue keren dan ‘gaul’, gitu lho!” Luna cekikikan saat mengungkapkan little secret soal cara dia naklukin pacar-pacarnya. Kontan yang lain pun menimpali dengan rangkaian ketawa dan cekikikan yang di telinganya bagaikan suara-suara setan kecil di sisi kirinya.
“Ah, Rasti, Maya, Dea, Luna, mengapa sekarang kalian berubah yach. Aku ingat waktu kita masih kecil saat acara seperti ini kami berlima seperti detektif lima sekawan yang selalu asyik dengan permainan yang mengasyikkan. Mulai dari permainan petak umpat di taman, main sembuyiin batu, panjat pohon dan permainan mengasyikkan lainnya atau membahas buku dan makanan favorit masing-masing. Tapi saat menginjak remaja semua berubah. Setiap bertemu yang diomongin selalu saja soal make up, baju, ukuran badan, cowok dan girly things lainnya. Ugh, sebeeel… I wish I could turn back time and I’d choose to stay a child forever…ehm, seperti Peter Pan di Neverland” Nanda mengumam dalam hati berharap seandainya semua sepupunya tidak berubah seperti saat mereka masih anak-anak.
“Lagian apanya yang fashionable dan trendy? Baju yang serba terbuka dibilang modis, emang gak takut apa ntar masuk angin atau lebih parah dicolak colek abang-abang…hiiiiii… najis tralala deh. Amit-amit jabang bayi.” Nanda bergidik ngeri saat membayangkan dirinya berbaju ala sepupu-sepupunya.
“Eh, malah melamun. Loe dengar gak sih omongan kami Nan?”
“Ii….iya, gue denger kok. Tapi gue heran aja masak kamu benar-benar mau di kiss ma pacar kamu. Kalau gak salah namanya Ryan kan?”
“Itu dulu, sekarang aku dah punya yang baru. Namanya Andre, so much better than Ryan” Luna menjawab sambil terus cekikikan.
“Lagian, zaman sekarang kiss bukan lagi hal tabu lagi bagi gadis seusia kita. Selepas SD, kita tuh dah dianggap menginjak usia remaja. Loe lihat kan sinetron-sinetron di TV yang cerita soal kehidupan remaja SMP dan SMU. Semuanya tuh memperlihatkan bahwa kiss bukan lagi sesuatu yang tabu dilakukan seperti zaman Papa Mama kita dulu lagi. Loe pasti dah nonton donk film Eifel I’m In Love atau Buruan Cium Gue, romantis dan keren kan.Terus mana ada sih cewek jelek, gendut, jerawatan bisa dapat cowok. Kalaupun ada pasti ntar juga si buruk rupa itu berubah jadi cantik dulu baru dapat pacar. Betul nggak guys?”
“Yoi, gue setuju. Kita kan Cuma sebatas kiss doank, kalaupun lebih toh gak masalah karena suka ma suka kan..hi…hi…hi…” Sambung Dea mau kalah dengan Luna
“Ada juga kan anggota dewan terhormat yang melakukannya. Belum lagi artis-artis yang tidak lagi memperlihatkan ciuman, pelukan, dan hidup serumah itu tabu. Itu realita kehidupan metropolis jaman sekarang. Either you embrace it or get left behind.” Maya menambahkan dengan antusias mencari sejumlah argumen pembenaran pendapatnya dan her gals.
Emang Tante dan Om gak marah jika kalian ciuman atau pelukan ma cowok kalian? Terus pakai baju yang serba kekuarangan bahan gitu emang juga gak ditegur ya?” Tanya Nanda penasaran melihat tingkah sepupu-sepupunya.
“Ya kalau ketahuan pasti marah lah. Tapi mereka kan selalu sibuk ma pekerjaannya jadi mana sempat ngawasin kita selama 24 jam. Kalau mereka ketemu ma teman-teman mereka, mereka kan juga cipika cipiki dan peluk-pelukan di depan umum. Mereka juga gak pernah negur kok kalau kita pakai baju yang fashionable asalkan gak saltum aja. Yang penting kita dikasih cukup duit buat uang saku sekolah dan belanja itu dah cukup membuat mereka senang kok, yak kan guys? Jawab Rasti sekenanya.
“Pokoknya kita akan ubah diri kamu biar kamu jadi cewek seksi, hot dan gaul seperti kita. Dari dulu kita kan dah seperti Detektif Lima Sekawan jadi you have to be like us too Sis.”
Ananda tidak kuasa menolak lagi suara-suara setan di sisi kirinya yang kini telah berubah seolah suara-suara malaikat kebaikan di sisi kanannya. Tidak boleh ada lagi yang mengatakan ia cewek gendut, jerawatan dan norak. Ananda ingin menjadi cewek perfect seperti sepupu-sepupunya dan seperti juga sebagian besar teman sekelasnya di sekolah yang selalu terlihat keren, modern dan seksi. Ananda bertekad membuktikan bahwa ia pun bisa seperti yang lain dan bukan hanya sebagai cewek yang di cap norak dan kutu buku dan tomboy. Toh, semua gadis ibukota seusianya kini melakukan hal yang sama.
***
“Pa, Reza susul aja Nanda ya. Ini dah jam sepuluh malam lebih dia belum juga pulang. Kalau Si Miki sampai berani berbuat kurang ajar pada Nanda, Reza akan bikin anak itu jadi kepeting rebus, biar tahu rasa berhadapan ma sapa dia.”
“Iya, Pa. Biar Reza nyusul Nanda ya. Mama jadi kuatir dengan keselamatan Nanda. Akhir-akhir ini anak itu juga bertingkah gak seperti biasanya. Dulu dia doyan makan, apalagi es krim ma semur daging bikinan Mama. Sekarang, Mama hampir tidak pernah lihat dia makan nasi ma daging. Paling dia cuma makan sayur ma buah. Terus dia juga suka banget pakai make up dan baju yang aneh-aneh apalagi jika sepupu-sepupunya datang. Mama jadi makin kuatir.” Sungut Mama sedikit kesal saat Papa seperti tidak bergeming dari kursinya sambil terus asyik membaca koran pagi tadi.
Namun saat Reza dan Mama sudah semakin kesal dengan sikap Papa yang seolah-olah acuh tidak mengubris kata-kata mereka, lelaki setengah baya itu meletakkan korannya di atas meja dan berusaha menenangkan kedua orang yang amat dicintainya.
“Ma, coba Papa tanya, Mama sudah merasa mendidik Nanda dengan baik? Sudah melakukan yang terbaik buat kebaikan anak kita termasuk memperhatikan segala keperluan baik materi maupun spiritual?”
“Papa ini ngaco. Ya iyalah. Jangan mengalihkan pembicaraan donk Pa.”
Sambil tertawa kecil Papa berkata lagi “Kalau begitu Mama tidak perlu kuatir dengan Nanda. Dia pasti tahu membedakan mana yang salah mana yang benar. Anak seumuran dia tidak lagi mempan jika harus disuruh melakukan ini atau dilarang melakukan itu. Yang terbaik adalah memberikan dia tanggung jawab untuk melakukan pilihan, tentu saja setelah kita didik dia sejak kecil dengan yang terbaik sesuai kemampuan kita. Sekarang Papa mau tanya ma Reza. Kamu percaya dengan adikmu kan? Percaya kalau dia akan melakukan pilihan yang benar dan percaya dia dapat menjaga dirinya sendiri?”
“Iya sih Pa. Reza aja takut kalau berantem ma tuh anak. Habis Nanda jago karate sih Pa. tapi tetap aja Reza kuatir Pa.”
“Ya sudah, kita tunggu setengah jam lagi. Kalau belum pulang juga baru kita susul dia. Papa tadi dah kasih ijin dia sampai jam sebelas malam.”
Semuanya terdiam dan menunggu di ruang tamu. Setengah jam terasa bagai setengah tahun. Menunggu memang merupakan pekerjaan yang paling membosankan dan mengesalkan. Saat jam dinding berdentang sebelas kali saat itu pula ketiga orang itu mulai bersiap melaksanakan rencananya. Namun, sebelum sempat membuka pintu, orang yang telah mereka tunggu muncul dari balik pintu depan.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa sayang.” Mama langsung memeluk puteri semata wayangnya dengan pelukan kasih sayang seorang ibu sementara Papa dan Reza menghela nafas lega.
“Ih… Mama, Nanda gak bisa nafas nih.”
“Mama mencemaskan kamu sayang. Sekarang kamu mau cerita kan ma kami semua. “ Sambil melepaskan pelukannya, Mama membimbing Nanda duduk di ruang keluarga diikuti yang lain.
“Ma, ternyata menjadi perfect itu susah ya Ma. Nanda gak mau jadi perfect lagi. Capek dan makan hati melulu…dan laper oi. Kalau Nanda gendut, jerawatan dan norak, Mama tetap sayang kan ma Nanda.”
“Dasar bodoh, kamu itu di mata Mama dah perfect. Mama gak minta apa-apa lagi dari kamu sayang. Kamu itu pintar, manis, lucu, dan baik. Coba bilang sapa yang bilang anag gadis mama ini jelek?”
“Papa juga akan selalu sayang ma Nanda meskipun semua orang bilang anak gadis Papa ini jelek, norak, gendut atau apalah. Kamu adalah anak Papa yang termanis. Yang lebih penting lagi kamu punya hati yang baik. Kecantikan bukan hanya dilihat dari fisik sayang tetapi juga terpancar dari kebaikan hati. Hanya orang-orang bodoh saja yang memuja kecantikan fisik saja yang akan luntur termakan usia. Tetapi kecantikan hati tidak akan lapuk dimakan waktu dan usia. Cleopatra itu kan cantik bukan karena fisiknya tapi karena kewibaan dan karisma yang terpancar dalam dirinya. Satu hal lagi yang telah sering Papa bilang, janganlah kamu hidup berdasarkan standard an dikte orang lain. Be who you are then you’ll be perfect”
“Tuh, Kak Reza juga bilang apa. Kamu itu dah perfect. Jangan pedulikan perkataan orang-orang bodoh yang hanya mengejar kecantikan semu aja. Lagian kalau loe pakai make up tebal dan aneh-aneh, Kak Reza jadi takut tahu! Bukannya cakep tapi malah mirip Mak Lampir…hi…!”
“Ih…Kak Rezaaaaaa! Nanda sontak langsung mencubit lengan kakaknya sekencangnya hingga terdengar suara mengaduh yang melengking.
“Aduhh, ampun Tuan Putri. Jangan sakitin hamba yang tidak bersalah ini.” Reza meringgis kesakitan sambil menggoda Nanda. “Pa, rasanya Reza tahu apa yang menimpa anak laki-laki itu. Pasti dia dah dihajar habis ma jagoan kita ini.”
“So pastilah. Berani sekali si Miki itu kurang ajar ma Nanda. Belum tahu kalau Nanda jagoan karate. Belum jadi suami istri dah minta kiss kiss an. Ih, jijay banget deh Pa. Nanda pelintir aja tanganya sampai dia minta ampun. Akhirnya Nanda pulang sendiri deh naik taksi. Untung bawa uang cukup. Nanda gak mau lagi niru-niru orang lain deh Pa. Kapok tujuh keliling deh Pa, Ma. Nanda juga gak bakal pacaran deh sebelum dewasa.”
“Nah, gitu donk. Itu baru Ananda adik kak Reza.”
“Tapi Pa, kak Reza tuh kalau lihat cewek juga pasti yang dipilih yang cantik. Seperti kak Rika misalnya, dia itu cantik dan seksi. Waktu itu ngapain kak Reza dekat-dekatin pipinya ke pipi kak Rika, hayoh? Berarti kak Reza gak konsisten donk.”
Semua koor tertawa saat mendengar celotehan Nanda. Saat drama sebabak diruang keluarga telah usai, Nanda buru-buru masuk ke kamarnya. Sesaat kemudian Nanda duduk di depan meja riasnya sambil membersihkan sisa-sisa make up di wajahnya. Gambar hidup yang sebelumnya dia kurang sukai sekarang tampak begitu bersahabat dengannya. Nanda merasa bersyukur bahwa dia dikarunai tubuh yang lengkap tidak cacat serta keluarga yang begitu mencintainya. Nanda bertekad mulai sekarang tidak akan membiarkan orang lain mendikte apa yang pantas buatnya atau pun mendefinisikan soal kecantikan. Semua yang dia miliki adalah anugerah terindah yang diberikan padanya dan ini adalah kecantikan yang sesungguhnya. Goodbye false beauty and welcome to the reality…beauty lies within … Dan seperti Papa Mama bilang bahwa masih banyak hal lain yang lebih berarti untuk dipikirkan dibandingkan hanya memikirkan soal kecantikan dan kesempurnaan. Ah…Nanda lupa berterima kasih betapa beruntung dia memiliki orang tua yang selalu siap untuk diajak berdiskusi dan berbagi cerita.
“Ugh, mengapa badan ini terus melar padahal aku kan dah mengurangi porsi makan. Ini juga mengapa jerawat ini selalu muncul setiap saat… sebeeel.” Sungut gadis yang baru menginjak usia remaja ini penuh kekesalan saat menatap bagian wajah yang ia anggap sebagai titik lemah yang harus ia singkirkan.
“Ah, seandainya saja aku memiliki wajah dan tubuh seperti Puteri Indonesia atau Miss Universe tentu akan banyak cowok yang mengejar aku. Sapa tahu ada produser film yang tertarik mengajakku berakting atau yach paling nggak sebagai bintang iklan sabun lux…Dan pasti sepupu-sepupunya yang usil itu tidak akan selalu memperoloknya..” Nanda tersenyum puas saat membayangkan impiannya memiliki tubuh dan wajah sempurna sambil bergaya dan bermanuver di depan cermin bak seorang selebritis yang sering nonggol di infotainment. Saat keasyikan berangan tiba-tiba saja pintu kamarnnya terbuka dan suara yang ia anggap menyebalkan itu mulai menukik tajam memasuki gendang telinganya.
“Eh, ganjen amat loe pakai bergaya kayak model iklan aja. Norak tahu! Semua dah nungguin tuh! Lagian dandan lama amat sih! Anak seusia loe itu gak usah pakai make up setebal itu tahu! Bukannya bertambah cantik malah kayak Mak Lampir!”
“Ugh, Kak Reza ini sok tahu! This is my room, give me a little bit privacy here! Bisa kan ngetuk pintu dulu sebelum masuk! Dah gitu pakai ngeledek dandananku segala dan main nepok jidat sembarangan. Sebel!” Sungut Nanda kesal menaggapi ucapan kakak lelaki semata wayangnya sambil melayangkan pukulan jab ke dadanya.
“Ouch, ampun…ampun…ampun Non. Jangan tinju lagi, sakit nih. Mentang-mentang dah jago karate. Iya deh Kak Reza minta maaf karena telah masuk kamar kamu tanpa permisi. Udah selesai belum, Papa Mama dah nunggu tuh. Kamu gak mau kan kita telat ke acara. Kamu itu dah perfect, gak perlu lah dipoles sana-sani. That’s not what you are!” Reza gemas melihat tingkah adik kesayangannya yang mulai terkontaminasi soal perfect dan gak perfect. Gak tahu darimana anak itu dapat ide soal sosok perfect seperti citra wanita yang ditampilkan di media.
“Benar? Kak Reza gak bohong kan. Kan ntar Nanda malu kalau sampai dikatain ketinggalan zaman, norak, kuno ma anak-anak lain.”
“Ananda sayang, Kak Reza gak bohong. Swear deh! Yuk…” Buru-buru Reza menggelandang Nanda untuk keluar kamar menemui Papa Mama mereka yang telah menunggu di bawah. Yach, acara pertemuan keluarga besar Sastronegoro yang selalu diadakan setiap sebulan sekali merupakan acara ‘wajib’ keluarga Reza sejak dia mulai bisa mengingat.
* * *
“Wah, Nanda loe makin endut aja yach. Itu lagi jerawat nonggol kemana-mana. Baju yang loe pakai juga konservatif banget sih kayak emak-emak. Kemarin kan dah gue bilang perempuan itu harus memiliki tubuh langsing, wajah mulus, dan fashionable. Itu adalah keharusan bagi perempuan jaman sekarang. Gue bisa kasih rekomendasi tempat facial dan resep diet yang dijamin manjur deh. Loe bisa lihat nih gue sebagai bukti hidup. Dulu berat badan gue mencapai angka di atas 50, sekarang berat gue gak pernah lebih dari 47. Amazing kan? Soal busana kita juga punya langganan di Plaza Senayan, modelnya selalu up to date dan trendy bok!” Si ceriwis Dea terus saja nyerocos bak ember bocor sambil menginspeksi Nanda habis-habisan.
“Yup, itu benar Nan. Cowok juga suka ma tipe cewek yang perfect. Badan ramping, kulit mulus, fashionable, gaul dan gak norak gitu loh!”
“ya, dulu waktu gue gak bisa ngontrol berat badan gue, cowok gue juga kesal dan ngancam mutusin gue. Apalagi waktu dia bilang gue norak dan gak gaul saat dia minta kiss, terus gue nolak. Wah, heartbreaking banget deh. Tapi sekarang semua cowok di kelas gue pada ngejar-ngejar gue karena sekarang gue keren dan ‘gaul’, gitu lho!” Luna cekikikan saat mengungkapkan little secret soal cara dia naklukin pacar-pacarnya. Kontan yang lain pun menimpali dengan rangkaian ketawa dan cekikikan yang di telinganya bagaikan suara-suara setan kecil di sisi kirinya.
“Ah, Rasti, Maya, Dea, Luna, mengapa sekarang kalian berubah yach. Aku ingat waktu kita masih kecil saat acara seperti ini kami berlima seperti detektif lima sekawan yang selalu asyik dengan permainan yang mengasyikkan. Mulai dari permainan petak umpat di taman, main sembuyiin batu, panjat pohon dan permainan mengasyikkan lainnya atau membahas buku dan makanan favorit masing-masing. Tapi saat menginjak remaja semua berubah. Setiap bertemu yang diomongin selalu saja soal make up, baju, ukuran badan, cowok dan girly things lainnya. Ugh, sebeeel… I wish I could turn back time and I’d choose to stay a child forever…ehm, seperti Peter Pan di Neverland” Nanda mengumam dalam hati berharap seandainya semua sepupunya tidak berubah seperti saat mereka masih anak-anak.
“Lagian apanya yang fashionable dan trendy? Baju yang serba terbuka dibilang modis, emang gak takut apa ntar masuk angin atau lebih parah dicolak colek abang-abang…hiiiiii… najis tralala deh. Amit-amit jabang bayi.” Nanda bergidik ngeri saat membayangkan dirinya berbaju ala sepupu-sepupunya.
“Eh, malah melamun. Loe dengar gak sih omongan kami Nan?”
“Ii….iya, gue denger kok. Tapi gue heran aja masak kamu benar-benar mau di kiss ma pacar kamu. Kalau gak salah namanya Ryan kan?”
“Itu dulu, sekarang aku dah punya yang baru. Namanya Andre, so much better than Ryan” Luna menjawab sambil terus cekikikan.
“Lagian, zaman sekarang kiss bukan lagi hal tabu lagi bagi gadis seusia kita. Selepas SD, kita tuh dah dianggap menginjak usia remaja. Loe lihat kan sinetron-sinetron di TV yang cerita soal kehidupan remaja SMP dan SMU. Semuanya tuh memperlihatkan bahwa kiss bukan lagi sesuatu yang tabu dilakukan seperti zaman Papa Mama kita dulu lagi. Loe pasti dah nonton donk film Eifel I’m In Love atau Buruan Cium Gue, romantis dan keren kan.Terus mana ada sih cewek jelek, gendut, jerawatan bisa dapat cowok. Kalaupun ada pasti ntar juga si buruk rupa itu berubah jadi cantik dulu baru dapat pacar. Betul nggak guys?”
“Yoi, gue setuju. Kita kan Cuma sebatas kiss doank, kalaupun lebih toh gak masalah karena suka ma suka kan..hi…hi…hi…” Sambung Dea mau kalah dengan Luna
“Ada juga kan anggota dewan terhormat yang melakukannya. Belum lagi artis-artis yang tidak lagi memperlihatkan ciuman, pelukan, dan hidup serumah itu tabu. Itu realita kehidupan metropolis jaman sekarang. Either you embrace it or get left behind.” Maya menambahkan dengan antusias mencari sejumlah argumen pembenaran pendapatnya dan her gals.
Emang Tante dan Om gak marah jika kalian ciuman atau pelukan ma cowok kalian? Terus pakai baju yang serba kekuarangan bahan gitu emang juga gak ditegur ya?” Tanya Nanda penasaran melihat tingkah sepupu-sepupunya.
“Ya kalau ketahuan pasti marah lah. Tapi mereka kan selalu sibuk ma pekerjaannya jadi mana sempat ngawasin kita selama 24 jam. Kalau mereka ketemu ma teman-teman mereka, mereka kan juga cipika cipiki dan peluk-pelukan di depan umum. Mereka juga gak pernah negur kok kalau kita pakai baju yang fashionable asalkan gak saltum aja. Yang penting kita dikasih cukup duit buat uang saku sekolah dan belanja itu dah cukup membuat mereka senang kok, yak kan guys? Jawab Rasti sekenanya.
“Pokoknya kita akan ubah diri kamu biar kamu jadi cewek seksi, hot dan gaul seperti kita. Dari dulu kita kan dah seperti Detektif Lima Sekawan jadi you have to be like us too Sis.”
Ananda tidak kuasa menolak lagi suara-suara setan di sisi kirinya yang kini telah berubah seolah suara-suara malaikat kebaikan di sisi kanannya. Tidak boleh ada lagi yang mengatakan ia cewek gendut, jerawatan dan norak. Ananda ingin menjadi cewek perfect seperti sepupu-sepupunya dan seperti juga sebagian besar teman sekelasnya di sekolah yang selalu terlihat keren, modern dan seksi. Ananda bertekad membuktikan bahwa ia pun bisa seperti yang lain dan bukan hanya sebagai cewek yang di cap norak dan kutu buku dan tomboy. Toh, semua gadis ibukota seusianya kini melakukan hal yang sama.
***
“Pa, Reza susul aja Nanda ya. Ini dah jam sepuluh malam lebih dia belum juga pulang. Kalau Si Miki sampai berani berbuat kurang ajar pada Nanda, Reza akan bikin anak itu jadi kepeting rebus, biar tahu rasa berhadapan ma sapa dia.”
“Iya, Pa. Biar Reza nyusul Nanda ya. Mama jadi kuatir dengan keselamatan Nanda. Akhir-akhir ini anak itu juga bertingkah gak seperti biasanya. Dulu dia doyan makan, apalagi es krim ma semur daging bikinan Mama. Sekarang, Mama hampir tidak pernah lihat dia makan nasi ma daging. Paling dia cuma makan sayur ma buah. Terus dia juga suka banget pakai make up dan baju yang aneh-aneh apalagi jika sepupu-sepupunya datang. Mama jadi makin kuatir.” Sungut Mama sedikit kesal saat Papa seperti tidak bergeming dari kursinya sambil terus asyik membaca koran pagi tadi.
Namun saat Reza dan Mama sudah semakin kesal dengan sikap Papa yang seolah-olah acuh tidak mengubris kata-kata mereka, lelaki setengah baya itu meletakkan korannya di atas meja dan berusaha menenangkan kedua orang yang amat dicintainya.
“Ma, coba Papa tanya, Mama sudah merasa mendidik Nanda dengan baik? Sudah melakukan yang terbaik buat kebaikan anak kita termasuk memperhatikan segala keperluan baik materi maupun spiritual?”
“Papa ini ngaco. Ya iyalah. Jangan mengalihkan pembicaraan donk Pa.”
Sambil tertawa kecil Papa berkata lagi “Kalau begitu Mama tidak perlu kuatir dengan Nanda. Dia pasti tahu membedakan mana yang salah mana yang benar. Anak seumuran dia tidak lagi mempan jika harus disuruh melakukan ini atau dilarang melakukan itu. Yang terbaik adalah memberikan dia tanggung jawab untuk melakukan pilihan, tentu saja setelah kita didik dia sejak kecil dengan yang terbaik sesuai kemampuan kita. Sekarang Papa mau tanya ma Reza. Kamu percaya dengan adikmu kan? Percaya kalau dia akan melakukan pilihan yang benar dan percaya dia dapat menjaga dirinya sendiri?”
“Iya sih Pa. Reza aja takut kalau berantem ma tuh anak. Habis Nanda jago karate sih Pa. tapi tetap aja Reza kuatir Pa.”
“Ya sudah, kita tunggu setengah jam lagi. Kalau belum pulang juga baru kita susul dia. Papa tadi dah kasih ijin dia sampai jam sebelas malam.”
Semuanya terdiam dan menunggu di ruang tamu. Setengah jam terasa bagai setengah tahun. Menunggu memang merupakan pekerjaan yang paling membosankan dan mengesalkan. Saat jam dinding berdentang sebelas kali saat itu pula ketiga orang itu mulai bersiap melaksanakan rencananya. Namun, sebelum sempat membuka pintu, orang yang telah mereka tunggu muncul dari balik pintu depan.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa sayang.” Mama langsung memeluk puteri semata wayangnya dengan pelukan kasih sayang seorang ibu sementara Papa dan Reza menghela nafas lega.
“Ih… Mama, Nanda gak bisa nafas nih.”
“Mama mencemaskan kamu sayang. Sekarang kamu mau cerita kan ma kami semua. “ Sambil melepaskan pelukannya, Mama membimbing Nanda duduk di ruang keluarga diikuti yang lain.
“Ma, ternyata menjadi perfect itu susah ya Ma. Nanda gak mau jadi perfect lagi. Capek dan makan hati melulu…dan laper oi. Kalau Nanda gendut, jerawatan dan norak, Mama tetap sayang kan ma Nanda.”
“Dasar bodoh, kamu itu di mata Mama dah perfect. Mama gak minta apa-apa lagi dari kamu sayang. Kamu itu pintar, manis, lucu, dan baik. Coba bilang sapa yang bilang anag gadis mama ini jelek?”
“Papa juga akan selalu sayang ma Nanda meskipun semua orang bilang anak gadis Papa ini jelek, norak, gendut atau apalah. Kamu adalah anak Papa yang termanis. Yang lebih penting lagi kamu punya hati yang baik. Kecantikan bukan hanya dilihat dari fisik sayang tetapi juga terpancar dari kebaikan hati. Hanya orang-orang bodoh saja yang memuja kecantikan fisik saja yang akan luntur termakan usia. Tetapi kecantikan hati tidak akan lapuk dimakan waktu dan usia. Cleopatra itu kan cantik bukan karena fisiknya tapi karena kewibaan dan karisma yang terpancar dalam dirinya. Satu hal lagi yang telah sering Papa bilang, janganlah kamu hidup berdasarkan standard an dikte orang lain. Be who you are then you’ll be perfect”
“Tuh, Kak Reza juga bilang apa. Kamu itu dah perfect. Jangan pedulikan perkataan orang-orang bodoh yang hanya mengejar kecantikan semu aja. Lagian kalau loe pakai make up tebal dan aneh-aneh, Kak Reza jadi takut tahu! Bukannya cakep tapi malah mirip Mak Lampir…hi…!”
“Ih…Kak Rezaaaaaa! Nanda sontak langsung mencubit lengan kakaknya sekencangnya hingga terdengar suara mengaduh yang melengking.
“Aduhh, ampun Tuan Putri. Jangan sakitin hamba yang tidak bersalah ini.” Reza meringgis kesakitan sambil menggoda Nanda. “Pa, rasanya Reza tahu apa yang menimpa anak laki-laki itu. Pasti dia dah dihajar habis ma jagoan kita ini.”
“So pastilah. Berani sekali si Miki itu kurang ajar ma Nanda. Belum tahu kalau Nanda jagoan karate. Belum jadi suami istri dah minta kiss kiss an. Ih, jijay banget deh Pa. Nanda pelintir aja tanganya sampai dia minta ampun. Akhirnya Nanda pulang sendiri deh naik taksi. Untung bawa uang cukup. Nanda gak mau lagi niru-niru orang lain deh Pa. Kapok tujuh keliling deh Pa, Ma. Nanda juga gak bakal pacaran deh sebelum dewasa.”
“Nah, gitu donk. Itu baru Ananda adik kak Reza.”
“Tapi Pa, kak Reza tuh kalau lihat cewek juga pasti yang dipilih yang cantik. Seperti kak Rika misalnya, dia itu cantik dan seksi. Waktu itu ngapain kak Reza dekat-dekatin pipinya ke pipi kak Rika, hayoh? Berarti kak Reza gak konsisten donk.”
Semua koor tertawa saat mendengar celotehan Nanda. Saat drama sebabak diruang keluarga telah usai, Nanda buru-buru masuk ke kamarnya. Sesaat kemudian Nanda duduk di depan meja riasnya sambil membersihkan sisa-sisa make up di wajahnya. Gambar hidup yang sebelumnya dia kurang sukai sekarang tampak begitu bersahabat dengannya. Nanda merasa bersyukur bahwa dia dikarunai tubuh yang lengkap tidak cacat serta keluarga yang begitu mencintainya. Nanda bertekad mulai sekarang tidak akan membiarkan orang lain mendikte apa yang pantas buatnya atau pun mendefinisikan soal kecantikan. Semua yang dia miliki adalah anugerah terindah yang diberikan padanya dan ini adalah kecantikan yang sesungguhnya. Goodbye false beauty and welcome to the reality…beauty lies within … Dan seperti Papa Mama bilang bahwa masih banyak hal lain yang lebih berarti untuk dipikirkan dibandingkan hanya memikirkan soal kecantikan dan kesempurnaan. Ah…Nanda lupa berterima kasih betapa beruntung dia memiliki orang tua yang selalu siap untuk diajak berdiskusi dan berbagi cerita.
Thursday, May 31, 2007
Pasuruan Berdarah
Saat bumi terampas
Tercerabut dari kaki-kaki telanjang
Tersingkir dari wajah-wajah jelata
Tergusur tanpa rasa
Para kaki telanjang tak lagi memebisu
Singsingkan lengan bulatkan tekad baja
Melawan tiran bersenjata batu
Torehkan sejarah di bumi pasuruan
Merah darah membanjir
Anyir merah darah semerah dada mereka yang menganga
Saat peluru-peluru maut menerjang
Mengincar sasaran tanpa kenal ampun
Di antara kaki-kaki telanjang
Di antara celotehan bocah-bocah telanjang kaki
Mengamuk menebarkan maut keji
Kaki-kaki telanjang menggelepar
Terbujur kaku memerah segar Laksana lembayung sore hari
Terlindas tiran tanpa nurani
Terbungkam kembali dalam bisu
Terbelenggu ketidakberdayaan diri
Di bawah tiran haus darah
Tercerabut dari kaki-kaki telanjang
Tersingkir dari wajah-wajah jelata
Tergusur tanpa rasa
Para kaki telanjang tak lagi memebisu
Singsingkan lengan bulatkan tekad baja
Melawan tiran bersenjata batu
Torehkan sejarah di bumi pasuruan
Merah darah membanjir
Anyir merah darah semerah dada mereka yang menganga
Saat peluru-peluru maut menerjang
Mengincar sasaran tanpa kenal ampun
Di antara kaki-kaki telanjang
Di antara celotehan bocah-bocah telanjang kaki
Mengamuk menebarkan maut keji
Kaki-kaki telanjang menggelepar
Terbujur kaku memerah segar Laksana lembayung sore hari
Terlindas tiran tanpa nurani
Terbungkam kembali dalam bisu
Terbelenggu ketidakberdayaan diri
Di bawah tiran haus darah
Wednesday, May 30, 2007
Serigala
Nyala mata liar memerah darah
garang menerjang setiap lembah
nanap mencari mangsa
Lolongan nyaring saat menyerbu
mengintai, mengepung mangsa
cakar-cakar maut menyerang tanpa ragu
mencabik, merobek ke segala penjuru
hingga tak bersisa
Serigala-serigala kelaparan
tamak puaskan nafsu keserakahan
hingga perut mengelembung api
berpesta di atas serakan bebangkai
dengan nyala mata liar memerah darah
Serigala-serigala berkuasa
menjarah, merampok, memperkosa
rakyat adalah mangsa
pemuas dahaga keserakahan dunia
tercengkeram dalam cakar serigala
tanpa daya melawan sang penguasa
Serigala-serigala bermahkota
nyala mata liar memerah darah
berkeliaran dengan cakar-cakar maut
berbaju penguasa
diagungkan
sekaligus
dibenci
garang menerjang setiap lembah
nanap mencari mangsa
Lolongan nyaring saat menyerbu
mengintai, mengepung mangsa
cakar-cakar maut menyerang tanpa ragu
mencabik, merobek ke segala penjuru
hingga tak bersisa
Serigala-serigala kelaparan
tamak puaskan nafsu keserakahan
hingga perut mengelembung api
berpesta di atas serakan bebangkai
dengan nyala mata liar memerah darah
Serigala-serigala berkuasa
menjarah, merampok, memperkosa
rakyat adalah mangsa
pemuas dahaga keserakahan dunia
tercengkeram dalam cakar serigala
tanpa daya melawan sang penguasa
Serigala-serigala bermahkota
nyala mata liar memerah darah
berkeliaran dengan cakar-cakar maut
berbaju penguasa
diagungkan
sekaligus
dibenci
Monday, May 28, 2007
Rindu
Rinduku menanti mati
Matiku menanti rindu
Sepi menggigit rasa
Gundah membelenggu hati
Menanti rindu yang menunggu mati
Matiku menanti rindu
Sepi menggigit rasa
Gundah membelenggu hati
Menanti rindu yang menunggu mati
Thursday, May 24, 2007
Surti dan Merpati Putih
Surti menatap wajah barunya di cermin dalam bisu. Sepasang lengkung alisnya serupa sabit kembar di tengah langit kelabu malam hari. Bedak tebal melukis wajah bulat telor seperti adonan tepung saat membuat kue donat. Sepasang mata dengan bola mata yang menghitam sehitam malam tanpa cahaya turun naik menahan beban bulu mata palsu yang bergelayut. Bibirnya memerah bagaikan merahnya api dalam sekam. Surti terus menatap bayangan kembarannya di cermin tua yang tergantung di kamar sempit yang pengap ini. Hatinya menciut saat dia menatap wajah itu. Wajah berpoles yang manja penuh make up tebal seperti wajah perempuan-perempuan malam yang kelayapan di gelapnya malam.
“Surti, sudah siap belum. Jangan kau lama-lama mengagumi wajah barumu itu di cermin. Cermin itu sumber penipuan yang akan membinasakanmu saat kau lengah. Cepatlah bergegas atau pelanggan pertamamu akan mencari sambaran lain yang lebih molek dari kau karena tidak sabar.” Teriakan wanita yang biasa dipangil Mami itu terdengar tidak sabar sambil menggedor pintu kamar reyot itu tanpa ampun.
Tersentak dari lamunan, saat suara Mami mengelegar membelah malam sampai-sampai cermin di hadapannya ikutan bergetar ketakutan hingga sirna wajah kembarannya itu. Dingin malam begitu menggigit dan mengeretas tulang-belulang yang membalut tubuh rampingnya yang memang kurang makan dan bukan karena sengaja merampingkan badan. Apalagi dengan balutan baju yang serba kekurangan bahan semakin menambah duri-duri dingin malam yang menusuk. Sebagian dadanya menyembul ke permukaan bagaikan dua gunung kembar yang siap meletus dan rok mininya hamper tidak bisa menyembunyikan dua paha ramping mulus. Bagian-bagian tubuh yang dulunya rapat dia tutupi kini semua terbuka tanpa kain penutup. Surti merasa terasing dengan dirinya tapi pilihan hidup baginya amatlah sedikit.
Dari balik jendela kamar reot ini terlihat merpati putih itu bertengger di dahan pohon. Matanya bersinar terang kontras dengan warna malam yang pekat. Merpati putih itu memandangnya tajam hingga serasa memakunya tanpa ampun di kursi di mana ia duduk. Mengapa dia selalu mengikuti ke manapun aku berada. Setiap saat dia akan selalu hadir bertengger di dahan pohon atau pun di daun jendela sambil terus memandangku. Kadang kala dia mengeluarkan suara aneh yang tidak aku mengerti tapi bisa kupahami. Dia selalu hadir di hari-hariku saat semua orang tidak lagi memperdulikanku entah itu siang entah itu malam. Terkadang aku bertanya apakah dia tiadak punya rumah, keluarga, atau saudara seperti aku ini. Tapi aku masih punya keluarga setidaknya satu-satunya permata yang kumiliki di dunia ini.
“Mak, kapan Bapak pulang? Sholeh pengin punya Bapak seperti teman-teman Sholeh yang lain di sekolah. Sholeh ingin bermain sepak bola dan memancing dengan Bapak. Sholeh tidak mau lagi dipanggil sebagai anak haram karena Sholeh punya Mak yang baik.”
Setiap kali mendengar pertanyaan soal lelaki yang menjadi ayah biologis anak semata wayangnya ini, kebingungan dan ketakutan menyerbu setiap penjuru hati Surti. Di mana dia mencari segala jawaban yang telah dia sembunyikan rapat-rapat dalam sebuah peti. Kemudian dia menguncinya dengan gembok baja kuat dan tidak seorangpun mampu membukanya. Peti dan kunci itu telah dia buang jauh-jauh di kedalaman laut hitam yang terdalam. Ya, laut hitam terdalam yang telah mengelilingi kehidupannya.
“Mak, Sholeh sangat sayang ma Mak dan tidak ingin melihat Mak bersedih.”
Sholeh, anak semata wayang Surti yang baru berusia 7 tahun merupakan satu-satunya yang memahami perasaannya meskipun tidak mengerti. Surti tidak pernah lagi menangis sejak kebahagian hidupnya terengut dari kehidupannya. Dia berjanji pada dirinya bahwa tidak akan ada lagi airmata tertumpah. Mungkin pula karena sudah tidak ada lagi airmata dalam matanya yang telah mengering hingga Surti tidak bisa menaggis lagi. Tapi Sholeh, anak semata wayangnya, selalu memahami saat hatinya sedang tercabik pilu. Pemahaman dalam keterbatasan usianya membuatnya tidak lagi bertanya soal Bapaknya setelah setiap tanya dijawab dengan bisu dan pilu
Braag… terdengar derit pintu bercericit saat dibuka secara paksa. Pintu usang yang telah lapuk dimakan usia itupun terkapar tanpa daya saat Mami menerobos masuk diiringi 2 tubuh lelaki kasar yang mengiringinya.
“Kamu tuli ya? Dengar tidak kau aku memanggil-manggil dari tadi tanpa sahutan, ha!”
Dengan kasar wanita yang biasa dipanggil Mami itu menarik rambut hitam legam Surti sambil terus bersumpah serapah. Surti pasrah tanpa perlawanan sedikitpun ibarat seekor rusa yang digelontorkan ke tengah arena gladiator yang dipenuhi singa buas. Baginya perlawanan dengan kehidupan telah menghabiskan seluruh energi yang dimilikinya. Semua telah mengering tanpa sisa. Singa-singa itu terus mengerubuti dan menggiringnya melewati lorong-lorong gelap rumah biadab yang dipenuhi kamar-kamar reot nan pengap. Bau wewangian bercampur alcohol dan asap rokok menebarkan racun ke seluruh penjuru rumah. Racun yang paling mematikan tersembunyi di balik kamar-kamar gelap sepanjang lorong ini saat transaksi terkutuk merajai. Cakar singa betina garang itu baru berhenti mencengkeram saat mereka tiba di depan kamar bernomor 1301. Segera kedua serigala yang dengan setia mengikuti tadi segera membuka kamar dan seketika Surti didorong paksa ke ruang siksa yang mengerikan. Segera pintu tertutp kembali dan suara anak kunci terdengar.
Tubuh Surti menggigil hebat dalam takut. Kedua tangannya berusaha menutupi dadanya yang menjulang sementara kedua matanya perlahan belajar melihat dalam remang kamar yang temaram. Surti bergidik dalam ngeri teramat sangat. Sesuatu mengelitik di ujung jiwanya yang terdalam. Peti yang menyimpan jawab atas rahasia terdalam itu seakan menemukan anak kunci untuk membukanya. Satu persatu pintu-pintu peti itu terkuak kembali.
Ya…kejadian 8 tahun lalu seakan berkelabat dalam ingatannya. Saat Surti baru berusia 15 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Kejadian yang telah merenggut semua kebahagian yang pernah diimpikan gadis seusianya. Saat seseorang yang paling dia segani dan paling dia percaya tiba-tiba berubah menjadi serigala garang tidak kenal ampun. Bayangan itu mulai membentuk gambaran nyata dihadapannya…begitu jelas.
Saat itu lelaki yang merupakan sahabat karib Ayah Surti sekaligus tokoh di desa mereka tiba-tiba menyeretnya ke dalam salah satu kamar di rumahnya. Ya, saat itu dia berjanji akan mengusahakan beasiswa sehingga Surti bisa melanjutnya sekolahnya. Apalagi sebagai kepala sekolah dia punya banyak kenalan yang bisa memuluskan jalannya. Saat dia menyuruh Surti datang ke rumahnya dengan alasan melengkapi persyaratan administrasi merupakan saat mala petaka itu terjadi.
Teriakan dan rintihan Surti bagaikan angin lalu saat tubuh lelaki setengah baya itu mulai melumat tubuh tak berdosa itu. Tanggisan dan kesakitan gadis itu malah membuatnya makin senang melampiaskan nafsu setannya. Hingga akhirnya gadis muda itu tidak lagi melawan. Gadis itu melewati semua kesakitan dan deritanya dalam bisu sebagaimana saat semua penduduk di desanya menghinakannya saat perutnya mulai membesar. Tamparan dan tendangan ayahnya ribuan kali mendarat di badannya karena aib yang kini dibawanya hingga ibunya tidak lepas menerima tendangan dan pukulan saat melindungi tubuh putrid semata wayangnya. Tidak ada yang percaya dengan cerita gadis berusia 15 tahun yang menuduh tokoh paling disegani yang merupakan calon kuat kepala desa sebagai pelaku tindakan amoral. Penduduk desa dan tokoh agama di desa ini menuduh itu hanyalah rekayasa gadis dari keluarga miskin untuk mendapatkan uang guna menyambung hidupnya dengan mencemarkan nama tokoh terpenting di desa ini. Bahkan laporan ke polisi pun kandas di tengah jalan saat mereka tidak memiliki uang untuk melaporkan kasus perkosaan tersebut.
Penderitaan belum berakhir saat ayah kandungnya mengusir Surti dari rumah karena dianggap sebagai pembawa aib. Meskipun ibunya menanggis pilu namun tidak kuasa meluruhkan kekerasan hati sang ayah. Dengan hati hancur, gadis desa berusia 15 tahun itu meninggalkan desa satu-satunya yang pernah dia kenal. Saat itu pula merpati putih itu terbang mengiringi dalam bisu dan dalam lara.
“Bu Surti, anak Ibu tidak bisa dibawa pulang sebelum Ibu melunasi biaya pengobatan dan biaya administrasi sebesar 500 ribu rupiah. Jika belum dilunasi anak Ibu terpaksa akan kami tahan di sini.”
Surti, ibu muda berusia 23 tahun ini tidak mengerti mengapa orang semiskin dia masih harus disuruh membayar biaya rumah sakit yang begitu besar. Dengan penghasilan kurang dari 30 ribu per hari sebagai penjual nasi uduk keliling mana mungkin dia punya uang sebesar itu. Tapi Surti tidak mungkin membiarkan putra semata mayangnya, Sholeh, tergeletak di rumah sakit. Dalam diri putranya ini tergantung cita-cita dan harapan. Belum pernah Surti sekejab pun berpisah dengan buah hatinya ini. Ah… mengapa orang-orang di dunia ini tidak ada sedikit pun yang memiliki rasa kemanusiaan. Rumah sakit yang seharusnya mengobati orang sakit malah mengenakan biaya bagi si miskin yang justeru semakin menambah kesakitannya. Darimana uang itu didapat?
“Surti, daripada kamu jualan keliling lebih baik kau kerja saja di tempatku. Gampang dapat duit banyak dank kau tidak perlu berjalan jauh dan kecapekan sampai tua.”
Wanita yang sering disebut Mami di gang dekat rumah kontrakan Surti selalu berusaha keras membujuknya bekerja di kelab malam sekaligus rumah bordil di mana ia bekerja. Surti tidak pernah mau menaggapinya. Satu-satunya harta yang masih dia jaga adalah Sholeh dan harga dirinya. Tapi saat Sholeh tergolek tanpa daya di rumah sakit menunggu uang tebusan, Surti tidak hanya punya pilihan di antara dua, Sholeh dan harga dirinya. Saat tidak ada uluran tangan yang mau menolongnya mengatasi kesulitan, Surti terpaksa karena dipaksa oleh keadaan. Surti membulatkan tekad. Merpati putih itu masih bertengger di jendela kamarnya yang sempit. Matanya menatap tajam hingga menembus jiwa Surti. Ah, aku tidak punya pilihan, kuharap kau memahamiku.
Lelaki yang duduk di tepian ranjang itu terus menghisap nikmatnya lintingan putih yang sesekali mengepulkan asal sambil minum segelas anggur. Bau alcohol bercampur asap segera menyeruak hidung Surti dan seketika membuat perutnya meronta-ronta. Lelaki itu memandang tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan terus menatap lekat kea rah tonjolan kembar yang sedari tadi berusaha dia tutupi dengan kedua tangannya.
“Heh, Mami bilang kau butuh duit banyak. Jika pelayananmu memuaskan aku akan memberimu banyak uang yang belum pernah kau lihat dalam hidupmu. Mendekatlah agar aku bisa melihatmu.” Lelaki itu mengisyaratkan Surti agar duduk di ranjang sambil menyeringai puas.
Perlahan Surti mulai mendekat. Bayangan Sholeh anak semata wayangnya yang tergolek di rumah sakit menguatkan langkah-langkah kakinya yang membatu. Dari balik jendela kamar remang itu Surti melihat merpati putih bertengger di jendela. Warnanya begitu putih bagaikan awan putih yang berarak di langit desa saat Surti masih kecil. Merpati terus menatapnya dengan tajam. Warna putih itu tiba-tiba memudar mendekati kelabu…warna itu perlahan mulai menyatu dengan kelam malam. Perlahan Surti menatap lelaki di atas ranjang yang menyeringai. Saat mata mereka bertemu, seketika itu baying masa lalu tergambar jelas.
Bara api yang selama ini dipendam di kedalaman hatinya tiba-tiba mulai membakar hatinya. Panas mulai menjalar dan hatinya mulai berubah bagai bara sekam yang siap membakar sekelilingnya. Surti tidak kuasa lagi menahan bara sekam itu untuk menyambar keluar bagai panah api yang terlepas dari busurnya. Merah api yang membakar hati Surti menyatu dengan temaram kamar. Warna merah itu mulai menyatu dengan merah hitam cairan yang mulai mengaliri sprei putih di atas ranjang tua itu. Warna merah yang begitu indah di mata hitam Surti. Lolongan serigala di atas ranjang itu bagaikan simponi musik yang selama ini diam-diam dia rindungan seiringan semburan air mancur merah dari dada serigala itu…serigala itu melolong panjang sebelum akhirnya salah satu cakara tajamnya menghujam ke tubuh Surti.
Braag…terdengar suara pintu didobrak dari luar hingga roboh. Teriakan dan jeritan ketakutan mulai terdengar di seluruh rumah jahanam itu. Sirine mobil polisi mulai meraung-raung bagaikan lolongan anjing malam.
Tubuh Surti tergelepar di lantai bermandikan warna merah hitam. Pecahan botol kaca masih tergenggam erat di jari-jemarinya yang berwarna merah. Mata Surti menatap Merpati Putih yang telah berubah kelam. Merpati terbang dan hinggap di dada Surti yang kembang kempis sambil menatap tajam ke mata Surti. Warna kelam itu seketika berubah merah hitam dan sesaat kemudian berubah putih kembali bagaikan warna awan putih yang berarak di langit desa di mana dulu Surti pernah menghabiskan 15 tahun hidupnya.
“Terbanglah, ceritakan padanya tentang kisahku. Ceritakan padanya betapa besar cintaku padanya dan betapa besar benciku pada ayahnya.”
“Surti, sudah siap belum. Jangan kau lama-lama mengagumi wajah barumu itu di cermin. Cermin itu sumber penipuan yang akan membinasakanmu saat kau lengah. Cepatlah bergegas atau pelanggan pertamamu akan mencari sambaran lain yang lebih molek dari kau karena tidak sabar.” Teriakan wanita yang biasa dipangil Mami itu terdengar tidak sabar sambil menggedor pintu kamar reyot itu tanpa ampun.
Tersentak dari lamunan, saat suara Mami mengelegar membelah malam sampai-sampai cermin di hadapannya ikutan bergetar ketakutan hingga sirna wajah kembarannya itu. Dingin malam begitu menggigit dan mengeretas tulang-belulang yang membalut tubuh rampingnya yang memang kurang makan dan bukan karena sengaja merampingkan badan. Apalagi dengan balutan baju yang serba kekurangan bahan semakin menambah duri-duri dingin malam yang menusuk. Sebagian dadanya menyembul ke permukaan bagaikan dua gunung kembar yang siap meletus dan rok mininya hamper tidak bisa menyembunyikan dua paha ramping mulus. Bagian-bagian tubuh yang dulunya rapat dia tutupi kini semua terbuka tanpa kain penutup. Surti merasa terasing dengan dirinya tapi pilihan hidup baginya amatlah sedikit.
Dari balik jendela kamar reot ini terlihat merpati putih itu bertengger di dahan pohon. Matanya bersinar terang kontras dengan warna malam yang pekat. Merpati putih itu memandangnya tajam hingga serasa memakunya tanpa ampun di kursi di mana ia duduk. Mengapa dia selalu mengikuti ke manapun aku berada. Setiap saat dia akan selalu hadir bertengger di dahan pohon atau pun di daun jendela sambil terus memandangku. Kadang kala dia mengeluarkan suara aneh yang tidak aku mengerti tapi bisa kupahami. Dia selalu hadir di hari-hariku saat semua orang tidak lagi memperdulikanku entah itu siang entah itu malam. Terkadang aku bertanya apakah dia tiadak punya rumah, keluarga, atau saudara seperti aku ini. Tapi aku masih punya keluarga setidaknya satu-satunya permata yang kumiliki di dunia ini.
“Mak, kapan Bapak pulang? Sholeh pengin punya Bapak seperti teman-teman Sholeh yang lain di sekolah. Sholeh ingin bermain sepak bola dan memancing dengan Bapak. Sholeh tidak mau lagi dipanggil sebagai anak haram karena Sholeh punya Mak yang baik.”
Setiap kali mendengar pertanyaan soal lelaki yang menjadi ayah biologis anak semata wayangnya ini, kebingungan dan ketakutan menyerbu setiap penjuru hati Surti. Di mana dia mencari segala jawaban yang telah dia sembunyikan rapat-rapat dalam sebuah peti. Kemudian dia menguncinya dengan gembok baja kuat dan tidak seorangpun mampu membukanya. Peti dan kunci itu telah dia buang jauh-jauh di kedalaman laut hitam yang terdalam. Ya, laut hitam terdalam yang telah mengelilingi kehidupannya.
“Mak, Sholeh sangat sayang ma Mak dan tidak ingin melihat Mak bersedih.”
Sholeh, anak semata wayang Surti yang baru berusia 7 tahun merupakan satu-satunya yang memahami perasaannya meskipun tidak mengerti. Surti tidak pernah lagi menangis sejak kebahagian hidupnya terengut dari kehidupannya. Dia berjanji pada dirinya bahwa tidak akan ada lagi airmata tertumpah. Mungkin pula karena sudah tidak ada lagi airmata dalam matanya yang telah mengering hingga Surti tidak bisa menaggis lagi. Tapi Sholeh, anak semata wayangnya, selalu memahami saat hatinya sedang tercabik pilu. Pemahaman dalam keterbatasan usianya membuatnya tidak lagi bertanya soal Bapaknya setelah setiap tanya dijawab dengan bisu dan pilu
Braag… terdengar derit pintu bercericit saat dibuka secara paksa. Pintu usang yang telah lapuk dimakan usia itupun terkapar tanpa daya saat Mami menerobos masuk diiringi 2 tubuh lelaki kasar yang mengiringinya.
“Kamu tuli ya? Dengar tidak kau aku memanggil-manggil dari tadi tanpa sahutan, ha!”
Dengan kasar wanita yang biasa dipanggil Mami itu menarik rambut hitam legam Surti sambil terus bersumpah serapah. Surti pasrah tanpa perlawanan sedikitpun ibarat seekor rusa yang digelontorkan ke tengah arena gladiator yang dipenuhi singa buas. Baginya perlawanan dengan kehidupan telah menghabiskan seluruh energi yang dimilikinya. Semua telah mengering tanpa sisa. Singa-singa itu terus mengerubuti dan menggiringnya melewati lorong-lorong gelap rumah biadab yang dipenuhi kamar-kamar reot nan pengap. Bau wewangian bercampur alcohol dan asap rokok menebarkan racun ke seluruh penjuru rumah. Racun yang paling mematikan tersembunyi di balik kamar-kamar gelap sepanjang lorong ini saat transaksi terkutuk merajai. Cakar singa betina garang itu baru berhenti mencengkeram saat mereka tiba di depan kamar bernomor 1301. Segera kedua serigala yang dengan setia mengikuti tadi segera membuka kamar dan seketika Surti didorong paksa ke ruang siksa yang mengerikan. Segera pintu tertutp kembali dan suara anak kunci terdengar.
Tubuh Surti menggigil hebat dalam takut. Kedua tangannya berusaha menutupi dadanya yang menjulang sementara kedua matanya perlahan belajar melihat dalam remang kamar yang temaram. Surti bergidik dalam ngeri teramat sangat. Sesuatu mengelitik di ujung jiwanya yang terdalam. Peti yang menyimpan jawab atas rahasia terdalam itu seakan menemukan anak kunci untuk membukanya. Satu persatu pintu-pintu peti itu terkuak kembali.
Ya…kejadian 8 tahun lalu seakan berkelabat dalam ingatannya. Saat Surti baru berusia 15 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Kejadian yang telah merenggut semua kebahagian yang pernah diimpikan gadis seusianya. Saat seseorang yang paling dia segani dan paling dia percaya tiba-tiba berubah menjadi serigala garang tidak kenal ampun. Bayangan itu mulai membentuk gambaran nyata dihadapannya…begitu jelas.
Saat itu lelaki yang merupakan sahabat karib Ayah Surti sekaligus tokoh di desa mereka tiba-tiba menyeretnya ke dalam salah satu kamar di rumahnya. Ya, saat itu dia berjanji akan mengusahakan beasiswa sehingga Surti bisa melanjutnya sekolahnya. Apalagi sebagai kepala sekolah dia punya banyak kenalan yang bisa memuluskan jalannya. Saat dia menyuruh Surti datang ke rumahnya dengan alasan melengkapi persyaratan administrasi merupakan saat mala petaka itu terjadi.
Teriakan dan rintihan Surti bagaikan angin lalu saat tubuh lelaki setengah baya itu mulai melumat tubuh tak berdosa itu. Tanggisan dan kesakitan gadis itu malah membuatnya makin senang melampiaskan nafsu setannya. Hingga akhirnya gadis muda itu tidak lagi melawan. Gadis itu melewati semua kesakitan dan deritanya dalam bisu sebagaimana saat semua penduduk di desanya menghinakannya saat perutnya mulai membesar. Tamparan dan tendangan ayahnya ribuan kali mendarat di badannya karena aib yang kini dibawanya hingga ibunya tidak lepas menerima tendangan dan pukulan saat melindungi tubuh putrid semata wayangnya. Tidak ada yang percaya dengan cerita gadis berusia 15 tahun yang menuduh tokoh paling disegani yang merupakan calon kuat kepala desa sebagai pelaku tindakan amoral. Penduduk desa dan tokoh agama di desa ini menuduh itu hanyalah rekayasa gadis dari keluarga miskin untuk mendapatkan uang guna menyambung hidupnya dengan mencemarkan nama tokoh terpenting di desa ini. Bahkan laporan ke polisi pun kandas di tengah jalan saat mereka tidak memiliki uang untuk melaporkan kasus perkosaan tersebut.
Penderitaan belum berakhir saat ayah kandungnya mengusir Surti dari rumah karena dianggap sebagai pembawa aib. Meskipun ibunya menanggis pilu namun tidak kuasa meluruhkan kekerasan hati sang ayah. Dengan hati hancur, gadis desa berusia 15 tahun itu meninggalkan desa satu-satunya yang pernah dia kenal. Saat itu pula merpati putih itu terbang mengiringi dalam bisu dan dalam lara.
“Bu Surti, anak Ibu tidak bisa dibawa pulang sebelum Ibu melunasi biaya pengobatan dan biaya administrasi sebesar 500 ribu rupiah. Jika belum dilunasi anak Ibu terpaksa akan kami tahan di sini.”
Surti, ibu muda berusia 23 tahun ini tidak mengerti mengapa orang semiskin dia masih harus disuruh membayar biaya rumah sakit yang begitu besar. Dengan penghasilan kurang dari 30 ribu per hari sebagai penjual nasi uduk keliling mana mungkin dia punya uang sebesar itu. Tapi Surti tidak mungkin membiarkan putra semata mayangnya, Sholeh, tergeletak di rumah sakit. Dalam diri putranya ini tergantung cita-cita dan harapan. Belum pernah Surti sekejab pun berpisah dengan buah hatinya ini. Ah… mengapa orang-orang di dunia ini tidak ada sedikit pun yang memiliki rasa kemanusiaan. Rumah sakit yang seharusnya mengobati orang sakit malah mengenakan biaya bagi si miskin yang justeru semakin menambah kesakitannya. Darimana uang itu didapat?
“Surti, daripada kamu jualan keliling lebih baik kau kerja saja di tempatku. Gampang dapat duit banyak dank kau tidak perlu berjalan jauh dan kecapekan sampai tua.”
Wanita yang sering disebut Mami di gang dekat rumah kontrakan Surti selalu berusaha keras membujuknya bekerja di kelab malam sekaligus rumah bordil di mana ia bekerja. Surti tidak pernah mau menaggapinya. Satu-satunya harta yang masih dia jaga adalah Sholeh dan harga dirinya. Tapi saat Sholeh tergolek tanpa daya di rumah sakit menunggu uang tebusan, Surti tidak hanya punya pilihan di antara dua, Sholeh dan harga dirinya. Saat tidak ada uluran tangan yang mau menolongnya mengatasi kesulitan, Surti terpaksa karena dipaksa oleh keadaan. Surti membulatkan tekad. Merpati putih itu masih bertengger di jendela kamarnya yang sempit. Matanya menatap tajam hingga menembus jiwa Surti. Ah, aku tidak punya pilihan, kuharap kau memahamiku.
Lelaki yang duduk di tepian ranjang itu terus menghisap nikmatnya lintingan putih yang sesekali mengepulkan asal sambil minum segelas anggur. Bau alcohol bercampur asap segera menyeruak hidung Surti dan seketika membuat perutnya meronta-ronta. Lelaki itu memandang tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan terus menatap lekat kea rah tonjolan kembar yang sedari tadi berusaha dia tutupi dengan kedua tangannya.
“Heh, Mami bilang kau butuh duit banyak. Jika pelayananmu memuaskan aku akan memberimu banyak uang yang belum pernah kau lihat dalam hidupmu. Mendekatlah agar aku bisa melihatmu.” Lelaki itu mengisyaratkan Surti agar duduk di ranjang sambil menyeringai puas.
Perlahan Surti mulai mendekat. Bayangan Sholeh anak semata wayangnya yang tergolek di rumah sakit menguatkan langkah-langkah kakinya yang membatu. Dari balik jendela kamar remang itu Surti melihat merpati putih bertengger di jendela. Warnanya begitu putih bagaikan awan putih yang berarak di langit desa saat Surti masih kecil. Merpati terus menatapnya dengan tajam. Warna putih itu tiba-tiba memudar mendekati kelabu…warna itu perlahan mulai menyatu dengan kelam malam. Perlahan Surti menatap lelaki di atas ranjang yang menyeringai. Saat mata mereka bertemu, seketika itu baying masa lalu tergambar jelas.
Bara api yang selama ini dipendam di kedalaman hatinya tiba-tiba mulai membakar hatinya. Panas mulai menjalar dan hatinya mulai berubah bagai bara sekam yang siap membakar sekelilingnya. Surti tidak kuasa lagi menahan bara sekam itu untuk menyambar keluar bagai panah api yang terlepas dari busurnya. Merah api yang membakar hati Surti menyatu dengan temaram kamar. Warna merah itu mulai menyatu dengan merah hitam cairan yang mulai mengaliri sprei putih di atas ranjang tua itu. Warna merah yang begitu indah di mata hitam Surti. Lolongan serigala di atas ranjang itu bagaikan simponi musik yang selama ini diam-diam dia rindungan seiringan semburan air mancur merah dari dada serigala itu…serigala itu melolong panjang sebelum akhirnya salah satu cakara tajamnya menghujam ke tubuh Surti.
Braag…terdengar suara pintu didobrak dari luar hingga roboh. Teriakan dan jeritan ketakutan mulai terdengar di seluruh rumah jahanam itu. Sirine mobil polisi mulai meraung-raung bagaikan lolongan anjing malam.
Tubuh Surti tergelepar di lantai bermandikan warna merah hitam. Pecahan botol kaca masih tergenggam erat di jari-jemarinya yang berwarna merah. Mata Surti menatap Merpati Putih yang telah berubah kelam. Merpati terbang dan hinggap di dada Surti yang kembang kempis sambil menatap tajam ke mata Surti. Warna kelam itu seketika berubah merah hitam dan sesaat kemudian berubah putih kembali bagaikan warna awan putih yang berarak di langit desa di mana dulu Surti pernah menghabiskan 15 tahun hidupnya.
“Terbanglah, ceritakan padanya tentang kisahku. Ceritakan padanya betapa besar cintaku padanya dan betapa besar benciku pada ayahnya.”
Subscribe to:
Posts (Atom)